Ketika Jepang Kalah Telak di Perang Dunia II

Daftar Isi

 

Kaisar tidak bertanya berapa banyak prajurit yang masih hidup. Ia tidak menanyakan seberapa besar kekuatan tempur yang tersisa. Sebaliknya, ia bertanya kepada para jenderalnya, "Berapa banyak guru yang masih bertahan?"

Dengan suara yang penuh kebijaksanaan, Kaisar berkata, "Kita telah jatuh bukan karena kurangnya strategi perang, tetapi karena kita tidak cukup belajar. Kita gagah di medan pertempuran, namun tertinggal dalam ilmu dan teknologi. Maka, kumpulkan para guru yang masih ada di negeri ini. Kini, harapan kita bukan lagi bertumpu pada kekuatan pasukan, tetapi pada ilmu yang mereka ajarkan."

Sebuah pernyataan yang mengguncang jiwa. Sebuah kesadaran yang lahir dari keterpurukan. Kaisar menyadari bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada pedang dan senjata, melainkan pada ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga: loading

Wahai para guru...

Engkau bukan sekadar pengajar, tetapi pilar peradaban. Di tanganmu, lahir pemimpin, ilmuwan, dan pemikir yang membangun masa depan. Ketika dunia berubah, engkaulah yang menjaga cahaya ilmu tetap menyala.

Jangan pernah merasa kecil dalam perjuanganmu. Setiap ilmu yang kau tanam, kelak akan menjadi benteng yang lebih kokoh daripada tembok pertahanan. Setiap huruf yang kau ajarkan, akan menjadi pedang yang lebih tajam daripada senjata perang.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan runtuh selama para gurunya masih berdiri tegak dan terus mengajar.

Posting Komentar